Charlie Munger – Talk No. 7

Kali ini artikel yang akan anda baca adalah mengenai pidato Munger di Pasadena, November 2000 di hadapan para manager investasi yang tergabung dalam komunitas “The Philanthropy Roundtable”. Tujuan Munger dalam pidato ini adalah supaya pendengarnya bisa belajar bagaimana belajar dari kesalahan supaya bisa berinvestasi dengan lebih efektif dengan beban biaya yang minimal.

Munger juga mengingatkan bahwa kegiatan investasi yang di lakukan oleh masing-masing orang atau organisasi sebenarnya adalah bagian dari sistem yang lebih besar, dimana kita adalah sebagian dari sistem ini. Untuk memaparkan masalahnya, Munger kemudian menciptakan kata “febezzlement” (dari gabungan kata the “F”unctional equivalent of “Embezzlement”) yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana efek dari kekayaan yang terkikis selapis demi selapis oleh para manager dan konsultan investasi.

philantrophy_rountable_munger

Munger membicarakan mengenai bursa saham Amerika yang sedang naik tinggi (tahun 2000) menyebabkan “efek-efek kekayaaan” (Wealth Effects). Berikut ini adalah bagian dari pidato tersebut.

Walaupun topik ini adalah topik penelitian yang di lakukan para cendikiawan di universitas, dan walaupun saya tidak pernah mengikuti satu pun pelajaran ekonomi di universitas, dan juga tidak pernah sepeser pun mendapatkan profit dari hasil analisa ekonomi makro. Saya tetap merasa para cendikiawan ekonomi telah menyepelekan dampak yang bisa disebabkan oleh kekuatan dari “efek kekayaan”.

Setiap orang setuju akan dua hal berikut. Pertama, saat harga saham naik, keinginan untuk berbelanja dan menkonsumsi menjadi bertambah tinggi. Sedangkan saat harga saham turun, keinginan tersebut akan menurun. Kedua, keinginan membeli (daya beli) masyarakat berperan penting dalam ekonomi makro. Namun para professional tidak setuju mengenai ukuran dan waktu dari “efek kekayaan,” dan bagaimana mereka berinteraksi dengan efek-efek lainnya, termasuk juga kerumitan dari meningkatnya daya beli biasanya akan menaikan harga saham dan begitu juga dengan meningkatnya harga saham akan menaikan daya beli. Mengenai ini, para professional bisa punya pendapat yang berbeda-beda. Maka itu “efek kekayaan” menjadi puzzle matematika yang belum terselesaikan.

Masalah “efek kekayaan” yang ditimbulkan dari kenaikan harga saham menjadi menarik karena dua alasan. Pertama, belum pernah ada kenaikan pasar saham sebanyak sekarang dengan kenaikan jauh lebih kecepat dari pada kenaikan GNP (Gross National Product/Pendapatan Nasional Bruto). Dan kedua, apa yang terjadi di Jepang 10 tahun belakangan ini telah menguncang akademisi ekonomi, keadaan ekonomi jepang sekarang menyebabkan ketakutan akan resesi sebagai kebalikan dari “efek kekayaan”.

Di Jepang ada begitu banyak kekacauan keuangan, pernah ada saat di mana harga saham dan real estate meningkat banyak dan dalam waktu yang sangat lama, bila dibanding Amerika, saat itu kenaikan tersebut juga di imbangi dengan kenaikan ektrim ukuran ekonomi riil Jepang. Baru setelahnya terjadi crash dan nilai aset hancur sehingga Jepang terperosok dalam. Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar ketiga mulai mengerahkan segala cara yang mereka kira bisa berguna seperti koreksi Keynes (corrective Keynesian) dan strategi moneter, cara-cara ini digunakan dengan semaksimalnya dalam jangka waktu yang panjang. Sebagai efeknya Jepang selain dalam jangka waktu panjang masuk dalam defisit ekonomi juga harus menekan suku bunga mendekati nol secara terus menerus. Namun demikian, tahun tahun berlalu, ekonomi Jepang tetap sama terperosok kedalam. Karena tidak ada pakar ekonomi yang berhasil meningkatkan keinginan konsumsi/daya beli masyarakat.  Begitu juga dengan pasar sahamnya yang terus dibawah.

Pengalaman Jepang adalah contoh yang merisaukan semua orang dan bila hal ini terjadi di sini (Amerika) akan menyebabkan dana kelelolaan instansi keuangan menjadi menyusut dan banyak yang akan menyalahkan diri sendiri lahir dijaman yang salah. Mari kita berharap keadaan menyedihkan di Jepang disebabkan oleh efek psikologi khusus dan kekorupan yang hanya ada di Jepang. Dengan begitu, kita baru bisa lebih tenang berharap kalau Amerika setidaknya sedikit lebih baik keadaannya.

Baiklah atas asumsi bahwa “harga saham mempengaruhi keinginan/daya beli masyarakat” adalah masalah yang penting dan resesi berkepanjangan yang terjadi di Jepang sangatlah mengkhawatirkan. Seberapa besar pengaruh ekonomis dari kenaikan/penurunan harga saham Amerika? Kesimpulan rata-rata para pakar ekonomi yang di dasarkan dari data bank sentral Amerika (the FED/Federal Reserve System) adalah harga saham tidak begitu berperan banyak dalam kenaikan ekonomi. Bagaimanapun sampai sekarang aset riil tiap penduduk bila mengabaikan dana pension, naik sekitar seratus persen dalam sepuluh tahun terakhir dan nilai pasar saham tidak sampai sepertiga dari total nilai bersih yang di miliki penduduk (mengabaikan dana pension). Belum lagi aset saham di Amerika sangatlah terfokus, bahkan bisa dibilang luar biasa terfokus, 1% penduduk paling kaya. Memiliki sekitar 50% nilai pasar saham, dan yang miskin sekitar 80% penduduk hanya memiliki sekitar 4% nilai pasar saham.

Dari data tersebut ditambah dengan korelasi antara harga saham dan  tingkat konsumsi (keinginan belanja), menjadi sangat mudah bagi pakar ekonomi untuk menyimpulkan bahkan bila kenaikan belanja rata-rata penduduk sampai 3% dari nilai aset saham, daya belanja hanya naik kurang dari 1.5% per tahun dalam 10 tahun belakangan sebagai akibat dari booming harga saham terpanjang sepanjang sejarah.

Saya percaya pemikiran seperti itu melewatkan realita ekonomi yang terjadi sekarang ini. Bagi saya, pemikiran seperti itu berdasar atas angka yang salah dan juga pertanyaan yang salah. Biarkan saya, yang amat sangat amatir ini, mencoba melakukannya dengan lebih baik, setidaknya dengan cara sedikit berbeda.

Satu hal yang saya ketahui, data dari “the FED” tidak memasukan dana pension karena kesulitan di lapangan. Jadi seandainya ada seorang dokter gigi tua yang berumur 60 tahun memiliki 1 juta dolar saham GE (General Electric) di dana pensiunnya. Saham ini kemudian naik menjadi 2 juta dolar, dan dokter gigi ini kegirangan merasa menjadi kaya  dan menjual mobil Chevrolet tua yang ia miliki dan menyewa mobil Cardillac mewah yang di dapat dengan tarif diskon. Menurut saya, “efek kekayaan” telah mempengaruhi dokter ini untuk berbelanja. Jadi seharusnya efek dana pensiun sekarang menjadi jauh lebih jelas dan lebih besar di banding masa lalu.

Hal yang lain, pemikiran tradisional sering mengabaikan implikasi dari ide yang di namakan bezzle. Kata bezzle ini pelesetan dari kata “embezzle” yang artinya penyelewengan penggunaan harta/hak yang sebenarnya dimiliki orang lain. Kata bezzle di gunakan oleh Profesor di Havard Economics yang bernama John Kenneth Galbraith (alias Keynes) yang dipakai untuk menggambarkan penyelewengan yang belum terungkap, dimana setiap dolar nya begitu berpengaruh dalam menstimulasi efek belanja. Bagaimanapun Embezzler (orang yang melakukan penyelewengan dana dan belum terungkap) berbelanja lebih banyak karena mereka memiliki peningkatan pemasukan dan sang pemilik dana juga tetap berbelanja seperti biasanya karena mereka tidak tahu kalau sebagian dari aset nya ternyata telah hilang.

Jadi sekarang saya akan menggali lebih dalam konsep bezzle ini. Seperti yang dibabarkan oleh Keynes, dalam ekonomi tradisional setiap penukarkan hasil kerja fisik kemudian  akan mendapatkan pemasukan. Bila seorang penjual sepatu membeli jaket yang dijual oleh seorang penjahit, si pembuat sepatu berkurang 20 dolar untuk dibelanjakan dan penjahit memiliki tambahan 20 dolar. Tidak ada efek lollapalooza di dalam cara belanja seperti ini walaupun terjadi terus menerus. Namun bila pemerintah mencetak 20 dolar yang lain dan menggunakannya untuk membeli sepasang sepatu, dan sekarang tidak ada yang merasa lebih miskin, mereka sama-sama memiliki 20 dolar. Dan bila penjahit membeli sepasang sepatu, proses ini berlanjut, tidak sampai ke tanpa batas namun disini terjadi sesuatu yang di namakan efek pengali Keynesian (Keynesian multiplier effect), efek ini semacam efek lollapalooza dalam belanja. Mirip seperti ini, penyelewengan (embezzlement) yang belum terungkap juga memiliki efek stimulasi yang kuat dalam tiap dolar yang akan di belanjakan bila dibandingan dengan uang yang didapat dengan cara pertukaran yang sebanding dan jujur.

Tanpa di ragukan Galbraith telah melihat bahwa penyelewengan yang belum terungkap menimbulkan faktor pengali ekonomi Keynesian (Keynesian multiplier type  economic effect), namun ia berhenti sampai disini. Karena ia menilai penyelewengan (bezzle) ini tidak bisa menyebar sampai kemana-mana, karena penyelewengan/korupsi besar, cepat atau lambat pasti terbongkar, uang yang ditelan, cepat atau lambat akan dimuntahkan kembali. Maka itu penyelewengan individual tidak bisa mengakibatkan pembengkakkan ekonomi, setidaknya tidak seperti pembelanjaan pemerintah.

Didasarkan dari pemikiran bahwa efek penyelewengan (bezzle) yang jelas terasa kecil ini, Galbraith tidak melanjutkan dengan pertanyaan logis berikutnya: “Apakah ada penyelewengan penting lainnya yang besar namun tidak memiliki efek kehancuran yang spontan?” Jawaban saya atas pertanyaan ini: Ada.  Saya akan seperti Galbraith membuat kata baru: kata pertama adalah “febezzle” yang melambangkan segala sesuatu yang memiliki fungsi yang sama dengan bezzle, kata kedua adalah “febezzlement” untuk melambangkan proses terbentuk nya “febezzle”, dan kata ketiga adalah “ febezzlers” untuk melambangkan orang-orang yang melakukan “febezzlement”. Kemudian saya akan mengidentifikasi sumber dari “febezzle” langsung dari ruangan ini. Anda sekalian, saya pikir telah ikut serta dalam pemciptaan “febezzle” dalam jumlah besar, yang terbentuk melalui praktik managemen investasi yang bodoh yang dilakukan saat mengelola saham dalam jumlah besar.

Bila dalam satu organisasi ini atau investor lain menghabiskan 3% aset per tahun demi biaya-biaya yang tidak diperlukan, tidak produktif, saat saham lagi naik tinggi-tingginya, orang-orang tetap merasa menjadi lebih kaya walaupun sebenarnya biaya-biaya tersebut menyusutkan total aset mereka, dan disisi lain pihak yang mengenakan biaya 3% tersebut alias si “febezzler” ini walaupun pendapatan tambahannya adalah febezzle (hasil penyelewengan) namun mereka merasa pendapatan itu adalah pendapatan yang mereka dapatkan dengan cara jujur. Keadaan seperti ini efek nya sama dengan kasus penyelewengan yang belum terungkap dimana penyelewengnya tanpa ragu menghamburkan dana publik untuk kepentingan pribadi. Keadaan ini bisa dengan sendiri nya berlangsung dalam waktu yang lama, dan dalam rentang waktu ini, febezzler yang mendapatkan 3% aset itu berbelanja seakan dananya adalah keuntungan dari kerja keras sendiri, namun sebenarnya uang yang di belanjakan adalah hasil dari kenaikan harga saham yang membawa efek kekayaan.

Didalam ruangan ini banyak yang masih tertanam dalam benaknya bahwa berhemat, mengindari keborosan adalah hal yang baik, dan kebiasaan ini akan membawa keuntungan (kekayaan) bagi masing-masing orang. Namun selama ini pakar ekonomi menunjukkan bahwa pembelanjaan yang bodoh adalah bagian yang sangat diperlukan untuk mendorong kemakmuran ekonomi, hal ini membuat kita merasa tidak tenang. Pembelanjaan yang bodoh ini kita sebut dengan “foolexures” yang merupakan gabungan dari kata fool (bodoh) dan expenditures (pengeluaran/pembelanjaan). Berikutnya saya akan menjelaskan mengapa proses meraup febezzle ini sama efeknya dengan menggunakan uang publik demi kepentingan diri sendiri.

Saya sendiri tidak suka dengan topik meraup febezzle ini, namun saya merasa topic ini banyak terjadi dimana-mana dan membawa efek besar bagi ekonomi, ditambah lagi walaupun tidak suka saya merasa orang-orang harus tau tentang kenyataan ini. Sebenarnya makin anda tidak suka, semakin anda harus jelas mengenalnya.

Kalau sebelumnya saya bilang organisasi investasi menghabiskan 3% dari aset, sebenarnya masih ada cukup banyak organisasi lain menghamburkan ongkos managemen jauh lebih besar daripada angka ini. Penyebab lain yang sering terjadi adalah organisasi investasi ini memecat manager investasi yang kinerjanya dirasa tidak baik kemudian menjual seluruh saham hasil pemilihan mereka, dan dengan cepat mencari manager investasi pengganti dan mendesak mereka untuk memilih saham-saham penganti. Sehingga transaksi jual-beli ini berlangsung cukup cepat, namun tetap tidak membantu hasil kinerja investasi mereka.

Sekarang, selain febezzlement dalam investasi yang bernilai sekitar $750 milliar, masih ditambah lagi dengan kekayaan yang terus menerus bertumbuh dan diperbaharui yang datang dari stock option (hak membeli saham) yang diberikan perusahaan kepada para pegawai mereka, ini juga termasuk dalam pemicu konsumsi yang dihasilkan dari efek kekayaan yang berasal dari kenaikan harga saham. Sekarang standar akuntansi tidak memasukkan stock option ini sebagai beban (cost) perusahaan, jadi di dorong oleh sistem akutansi yang bermasalah ini, stock option juga menimbulkan efek kekayaan dari saham, yang sebenarnya juga memiliki efek febezzle (penyelewengan dana). Jadi efek kekayaan dari febezzle saya yakin jauh lebih besar dibanding apa yang seharusnya terjadi secara konvensional.

Untuk memperbaiki masalah ini, ada dua aturan yang bisa diikuti: yang pertama adalah prinsip dari nilai moral (ethical) dan yang kedua adalah prinsip kehati-hatian (prudential). Prinsip nilai moral menurut Samuel Johnson kepada mereka yang bertugas dalam organisasi: “Tindakan membiarkan keteledoran (ignorance) yang bisa dengan mudah dihilangkan adalah suatu tindakan penghianatan terhadap kewajiban moral”. Sedangkan prinsip kehati-hatian bisa dijelaskan dengan kata-kata yang berasal dari sebuah iklan lama: “Orang yang membutuhkan peralatan mesin baru , namun tidak membelinya, sebenarnya telah membayarnya”. Saya percaya kata-kata iklan ini juga berlaku untuk peralatan pemikiran. Bila anda tidak memiliki alat pemikiran yang benar, anda beserta orang-orang yang mencari bantuan terhadap anda telah mendapatkan kerugian (bencana) dari keteledoran (ignorance) yang seharusnya bisa dihindari.

Demikianlah artikel kali ini. Terima kasih telah dibaca selesai. Semoga setelah ini anda jadi bisa lebih berhati-hati dalam menghadapi manager investasi maupun organisasi dengan praktik-pratik febezzlement. Dan bisa ikut serta dalam memegang prinsip nilai moral dan kehati-hatian saat berinvestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 × eight =