QVG Framework – Part II (Growth)

Piramid_pertumbuhan
Catatan kali ini merupakan bagian kedua yang membahas tentang QVG Framework. Kalau di catatan sebelumnya adalah mengenai dimensi Quality, maka catatan kali ini adalah mengenai dimensi Growth.

Pada dasarnya setiap investor selain mendapatkan keuntungan dari perusahaan dengan cash flow yang stabil, investor akan lebih untung lagi kalau cash flow tersebut juga terus menerus tumbuh dari tahun ke tahun. Di samping itu Mr. Market biasanya juga menghargai lebih tinggi perusahaan yang bisa menghasilkan pertumbuhan yang tinggi. Bagi investor, kegilaan Mr. Market dalam menghargai perusahan dengan growth tinggi adalah bonus sampingan yang tentunya menyenangkan.

Dalam QVG Framework, pertumbuhan yang dimaksud termasuk pertumbuhan profitabilitas (dicerminkan melalui laba ataupun cash flow) dan pertumbuhan deviden (dicerminkan melalui dividend yield). Jadi semakin bertambah laba perusahaan yang telah kita miliki, maka peningkatan profitabilitas ini akan memperkecil rasio P/E (Karena Earning semakin besar, P/E semakin kecil). Begitu juga dengan dividend yield (Imbal hasil dari pembagian deviden), saat terjadi peningkatan profitabilitas, bila pembagian rasio deviden tetap sama, dividend yield yang kita terima juga akan semakin meningkat.

Setiap investor seharusnya menyadari kalau tingkat pertumbuhan di masa lalu tidak selalu berlanjut. Di sini, yang saya maksud dengan tidak selalu berlanjut meliputi: 1. kalau bertahun-tahun belakangan tingkat pertumbuhan selalu positif, bisa saja tahun depan mulai tertahan atau bahkan menjadi negative. Karena sewaktu-waktu perusahaan bisa saja kehilangan sumber pertumbuhan yang sebelumnya dimiliki. 2. pertumbuhan laba perusahaan bergantung dari pertumbuhan bisnis real perusahaan, jadi tidak ada yang namanya tiap tahun selalu tumbuh sebesar sekian (misalnya 60%) secara linear terus menerus. Jadi saat memproyeksikan pertumbuhan linear, kita seharusnya lebih berhati-hati. Karena dua alasan ini, prospek pertumbuhan sebaiknya diperiksa ulang secara berkala, untuk memeriksa apakah faktor pendorong pertumbuhan tersebut masih ada.

Dua faktor utama pendorong pertumbuhan adalah 1. Pertumbuhan perusahaan secara alami  bisa berasal dari pertumbuhan pendapatan. 2.  Pertumbuhan margin yang bersumber dari efisiensi proses penyedian produk/servis.

Strategi berikut ini bisa menjadi bahan analisa untuk mengetahui apakah perusahaan sedang berada di jalan yang benar untuk meningkatkan pertumbuhan pendapatan:

  • Menjual lebih banyak produk/servis ke pelanggan yang telah ada dan/ataupun pelanggan baru.
  • Ekspansi ke target pasar baru, domestik maupun internasional, banyak perusahaan mature yang menemukan kehidupan barunya dengan cara tumbuh di pasar internasional.
  • Menaikan harga jual. Keberhasilan strategi ini bergantung dari seberapa kuat kebutuhan pelanggan akan produk/servis yang diberikan oleh perusahaan. Selain hanya berguna untuk perusahan yang memiliki kekuatan menentukan harga, strategi ini juga hanya bisa digunakan secara terbatas, karena harga yang naik berlebihan (kenaikan margin) akan mengundang kompetisi baru yang ingin mencoba mencicipi margin dan biasanya mereka masuk dengan menawarkan harga yang lebih rendah. Akan lebih buruk lagi bila karena harga yang terlalu tinggi, pelanggan lari ke produk saingan lain.
  • Menurunkan harga jual. Strategi ini berguna hanya bila dengan bertambahnya permintaan perusahaan bisa menurunkan beban produksi. Biasanya cara inilah yang dilakukan oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap yang tinggi.
  • Akuisisi. Cara ini dalah cara yang mahal dan biasanya akuisisi gila-gilaan hanya dilakukan untuk memenuhi nafsu managemen dan tidak memberikan hasil yang baik bagi pemegang saham.

Setelah kita mengetahui apa saja yang bisa di lakukan perusahaan untuk mendorong pertumbuhan pendapatan. Berikut ini adalah beberapa sumber pertumbuhan margin:

  • Pertumbuhan margin bisa bersumber dari efisiensi proses penyedian produk/servis (operating efficiency) dan keunggulan skala ekonomi (economy of scale).
  • Keunggulan skala ekonomi bisa dieksploitasi oleh perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan dan beban tetap produksi yang cukup besar (contohnya beban software, beban R&D dan beban mesin pabrik)
  • Hanya perusahaan yang memiliki keunggulan kompetisi berkelanjutan bisa diuntungkan dari efisiensi beban produksi dan/ataupun skala ekonomi, karena tanpa perlindungan dari keunggulan kompetisi, bila strategi ini berhasil ditiru pesaing lain biasanya akan berakhir dengan rusaknya harga jual.

Selain yang telah dibahas diatas, investor juga bisa menikmati hasil pertumbuhan dari peningkatan efisiensi modal kerja (working capital). Hal ini bisa di lakukan dengan berbagai cara: meningkatkan rasio pembayaran deviden (dividend payout ratio), pembelian kembali saham perusahaan (stock buyback), pelunasan hutang, transfer beban modal (persediaan) kepada supplier, investasi untuk pertumbuhan dimasa depan.

Stock buyback akan menguntungkan pemegang saham bila dibeli dengan harga murah, namun stock buyback dapat menghancurkan nilai pemegang saham apabila managemen membayar saham dengan harga yang berlebihan. Ada dua pertanyaan untuk mengevaluasi stock buyback:

1. Apakah managemen bersikap bijak terhadap investor? Dalam hal ini kita harus selalu ingat kata-kata dari Warren Buffett yang satu ini: “In evaluating people, you look for three qualities: integrity, intelligence, and energy. And if you don’t have the first, the other two will kill you”. Maka biasanya managemen tanpa integritas tinggi biasanya tidaklah membuat keputusan buyback dengan bijak alias tidak menguntungkan investor.

2. Apakah pembelian saham (stock buyback) tersebut hanya untuk memenuhi ekspektasi para analis/market terhadap kenaikan EPS?  Managemen perusahaan bisa saja melakukan buyback hanya untuk memenuhi ekspektasi pasar terhadap tingkat pertumbuhan earning per share (EPS = Total Earning/Total number of shares). Dengan melakukan buyback, jumlah saham yang beredar menjadi berkurang, sehingga EPS bisa menjadi lebih tinggi, dan laba perusahaan terlihat meningkat.

Jadi dalam menganalisa prospek pertumbukan sebaiknya kita memperhatikan faktor-faktor pendorong apa saja yang mendukung prospek pertumbuhan perusahaan. Analisa pertumbuhan tersebut kemudian dibuat secara terpisah, baru kemudian setelah kita selesai menemukan semuanya, angka pertumbuhan dari masing-masing pendorong pertumbuhan digabungkan untuk menentukan total prospek pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian, saat pertumbuhan tidak seperti yang diperkirakan, kita bisa menganalisa kembalik faktor mana saja yang faktanya tidak seperti yang diperkirakan.

Demikianlah pembahasan mengenai dimensi pertumbuhan (Growth) dari QVR framework. Selain sumber-sumber pertumbuhan yang telah disebutkan diatas, apakah anda menemukan sumber-sumber lain? apakah menurut anda ada cara lain yang lebih efektif dalam menganalisa prospek pertumbuhan tersebut?

Pada kesempatan berikutnya, saya akan membahas dimensi valuasi (Valuation) dari QVR framework, khususnya mengenai Absolut PER. Jadi nantikan artikel berikutnya di mokosays. Happy Weekend..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× eight = 40