Mengenal Model Valuasi Reverse Discounted Cash Flow

reverse_dcf_logoDalam artikel sebelumnya sudah pernah dibahas mengenai model valuasi DCF (Discounted Cash Flow). Artikel kali ini kita akan mengenal model valuasi yang lain, yaitu model reverse DCF.

Kalau sebelumnya anda telah mengenal DCF, anda mungkin juga menyadari kalau DCF sangat bergantung pada ketepatan angka-angka proyeksi cash flow, proyeksi growth, dan discount rate. Untuk itu kita akan melihat DCF dari sisi yang berlawanan, yaitu dibalik prosesnya.

Bila tujuan analisa DCF adalah mengetahui nilai wajar suatu bisnis, maka dalam reverse DCF tujuannya adalah untuk mengetahui berapakah ekspektasi growth yang diharapkan oleh tuan pasar terhadap bisnis yang sedang dianalisa.

Analisa reverse DCF dilakukan dengan menggunakan informasi yang didapat dari pasar yaitu harga per lembar saham. Dengan harga ini kita akan dapat mendapatkan berapakah tingkat pertumbuhan yang diekspektasikan oleh pasar. Informasi ini sangat penting bagi investor karena investor menjadi bisa menganalisa apakah ekpektasi pertumbuhan tersebut masih masuk rasional atau sudah sangat tidak wajar.

Biar lebih mudah, mari kita lihat contoh analisa reverse DCF dari Semen Indonesia (SMGR) dibawah ini:

smgr_reverse_dcf

Analisa reverse DCF kali ini dilakukan dengan bantuan spreedsheet (Anda bisa mendownloadnya disini). Data-data yang diperlukan sama seperti bila kita melakukan analisa DCF, hanya saja sekali lagi perbedaannya dalam analisa reverse DCF yang kita inginkan bukanlah melihat berapa nilai Intrinsik Value dari perusahaan yang dianalisa, melainkan berapa ekspektasi Growth Rate yang dimiliki oleh Tuan Pasar. Menggunakan spreadsheet diatas, anda bisa mencoba beberapa nilai Growth Rate, cobalah sampai nilai pada kolom Margin of Safety berubah menjadi diantara -5% sampai 5%.

Dalam contoh diatas, pertama kali saya menggunakan growth rate 20%, sehingga mendapatkan Intrinsic Value 20,097, dengan Margin of Safety (MoS) sebesar 25%. Nilai intrinsic yang lebih tinggi dari harga saham (last price) berarti tuan pasar memiliki asusmsi pertumbuhan yang lebih pesimis (lebih kecil). Maka itu saya kemudian mencoba memperkecil growth rate, dan mendapatkan bahwa dengan Growth Rate 13% intrinsic value adalah 15,148 yang saya sudah cukup dekat dengan last price. Hal ini bisa di lihat dari MoS yang sudah menjadi berada dibawah 5%. Kenapa 5%? Ada yang tau?

Sekarang anda telah mengetahui bahwa dengan harga saham 15,000 dan discount rate sebesar 10%, tuan pasar berekspektasi bahwa Growth Rate yang bisa dicapai perusahaan Semen Indonesia (SMGR) berada dikisaran 13%.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah tingkat pertumbuhan 13% untuk SMGR adalah mungkin? Jawabannya mungkin bisa berbeda bagi setiap investor.

Kuncinya adalah bila setelah analisa reverse DCF anda menemukan bahwa ekspektasi pertumbuhan pasar sudah terlalu tinggi sehingga tidak begitu mungkin untuk bisa dicapai, maka bisa disimpulkan bahwa harga yang ditawarkan pasar sekarang sudah terlalu tinggi dan tidak rasional. Namun sebaliknya bila anda menemukan bahwa pertumbuhannya masih sangat mungkin atau mudah untuk dicapai, maka kemudian anda bisa melanjutkan analisa anda dengan menggunakan metode valuasi lainnya untuk mendapatkan dimanakah harga yang cocok untuk memiliki bisnis tersebut.

Dengan kata lain, reverse DCF adalah model valuasi yang bisa membantu kita melihat apakah tuan pasar sudah terlalu optimis atau sedang pesimis. Informasi ini akan sangat membantu untuk terhindar dari keputusan investasi yang salah karena terlalu optimis sehingga membuat keputusan yang lebih menjurus kepada tindakan spekulasi dan bukan investasi.

Demikianlah artikel mokosays kali ini. Semoga bisa membantu anda untuk menjadi lebih bijak dalam berinvestasi. Bila ada pertanyaan silahkan dikirimkan ke mokosays@gmail.com. Nantikan artikel mokosays berikutnya. Happy mokosays..

6 thoughts on “Mengenal Model Valuasi Reverse Discounted Cash Flow

  1. Bagaimana cara membacanya kalau hasilnya nilai intrinsik lebih besar dari lastprice? seperti PTRO..thanks, blognya sangat membantu

    • Pada dasarnya saat nilai intrinsik lebih tinggi dari harga saham, maka saham tersebut termasuk undervalue (baca: murah), bila sebaliknya, maka saham tersebut overvalue (baca: mahal).

      [Sebagai tambahan] Yang perlu diperhatikan, bila nilai intrinsik lebih tinggi daripada harga saham, maka terbentuklah jarak (gap) antara nilai dan harga. Jadi kalau nilai ekonomis (economic value) perusahaan menurun, otomatis gap tersebut juga akan menutup, begitu juga sebaliknya.

      Semoga membantu. Terima kasih..

  2. mau tanya untuk nilai2 yang musti di isi spt template yang sudah di kasih apakah dalam hitungan jutaan jg? saya mencoba menghitung dengan nilai per lembar saham 13.500 dengan kondisi book value minus hasil yang di dapat jauh sekali antara nilai lembar saham dan Intrinsik Value. untuk disc rate itu sama dengan inflasi pertahun? mohon pencerahannya terima kasih

  3. Nilai dari laporan keuangan diisi dalam besaran yang sama, kalau book value, starting CF, dalam jutaan maka shares outstanding juga harus dalam jutaan.
    Bila masih ragu, boleh template yang sudah di isi boleh di kirimkan ke mokosays@gmail.com untuk dicek.

    Untuk DCF, saya sangat tidak menganjurkan dipakai untuk perusahaan yang tingkat kestabilan pendapatannya/operating income nya rendah (alias kadang untung kadang rugi).

    Untuk discount rate adalah nilai pengembalian modal (return) yang anda harapkan bisa didapat dalam jangka panjang. Biasanya merupakan risk free rate seperti goverment bond rate (suku bunga surat utang negara).

    Atau bisa juga di artikan sebagai beban biaya yang di keluarkan untuk mendapatkan modal yang di keluarkan (cost to equity).

    Semoga membantu.

  4. mas mau tanya boleh berkaitan dengan proyeksi cash flow?
    saya cara yang terkait skripsi gimana caranya proyeksikan usaha itu untuk taun kedepannya. usahanya adalah usaha tani pupuk organik
    dan usaha pupuk itu baru berjalan 1 tahun trus suruh proyeksikan 5 tahun kedepan dan setelah itu baru dianalisis finansial,
    yang saya tanyakan lebih baik saya proyeksikan cash flow itu dengan model gimana ya.?
    makasih

    • Terima kasih atas kunjungan dan pertanyaannya.

      Maaf Mas, saya belum bisa menjawab pertanyaan anda. Karena model investasi yang saya ikuti hanya kalau ekonomi perusahaan sudah terbukti stabil dan ada histori perusahaan minimal 5 tahun kebelakang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 × one =